DFP HEAD cara gurih gurij sorr | Your Health Guide
IKLAN HEADER

cara gurih gurij sorr

“Waduh tobat! Tobat… Tobat tobat nek kayak ngene carane.” Seru Kang Paijo ketika aku dan Kliwon sampai di Brak tempat kami–Aku, Kliwon, Kang Paijo dan Kang Paidi–saban sore ngumpul.
“Ada apa to, Kang?” Tanya Kliwon “Wong lagunya aja enak begini…”
“Untuk perempuan yang sedang dalam pelukan, Payung Teduh!” aku mengangkat dua jempolku dan menjentikkannya untuk mendukung Kliwon.
“… Kok misuh-misuh kayak orang kesurupan aja?”
“Njaluk disajeni!”
“Enak e, disajeni opo, Yan? Semprong atau gelas?” Kang Paidi meyahut celetukanku dengan kepingkal-pingkal dan tiada hentinya memukul-mukul alas duduk dari bambu.
“Nah pas banget, Kang! Ada dua gelas pecah, tuh, di rumahku tak ambilin po?” Aku pun ikutan memukul-mukul alas karena geli.
“Yan! Tega bener kamu, kamu juga Kang Paidi… ” Kliwon mecucu ke arahku dan Kang Paidi berganti-gantian. “Sahabat lagi susah bukannya menghibur tapi malah mengejek kayak gitu.”
Aku dan Kang Paidi bertatapan mata seoalah sedang saling mencari raut penyesalan antara satu sama lain. Kang Paidi menaikkan alisnya dan memberi isyarat ‘Kliwon sok suci tuh’ dengan gerakan kepalanya. Aku mengangkat bahu memberi isyarat ‘lah terus aku kudu piye?’. Kang Paidi malah mengulangi isyarat yang tadi.
“Ada apa to, Kang Paijo, sik bagus koyo Wedhus? Wajah riangmu sore ini pergi kemana?” Aku tak bisa merayu lebih manis lagi.
“Bagus koyo wedhus, raimu!” Jawab Kang Paijo. “Wajah riang! Wajah riang! Sok penyair kamu!”
“Ya kamu itu kenapa? Macam wong edan di pinggir jalan!” Tukas Kliwon tiba-tiba.
Aku dan Kang Paidi yang mendengar Kliwon berkata begitu, sontak langsung melempari kliwon dengan kulit. Aku melemparinya dengan kulit kacang, sementara Kang Paidi melemparinya dengan Kulit Pisang. “Sok suci!” dengus Kang Paidi. Kliwon marah, langsung mengambil kulit pisang yang mengenai pundaknya dan hendak melempar kembali ke arah Kang Paidi.
“Stooooooooooooooooooooooooooooooooooop!!!” Teriak Kang Paijo panjang keras sekali. Lalu membrendel kami bertiga dengan khotbah yang entah datang dari pikiran yang mana. Telunjuk kanannya menuding-nuding kami bertiga, sementara tangan kirinya berdecak di pinggang. Ia mendeliik menyeramkan, “Kalian semua telah berbuat aniaya! Kalian bukan orang muslih lagi! Kalian bukan Muslihin. Kalian bukan Muslihun! Dasar tukang-tukang berbuat kerusakan!”
Kami bertiga yang memang pada dasarnya adalah yunior dari Kang Paijo pun ketakutan. Kang Paijo tertua, disusul Kang Paidi, kemudian aku dan Kliwon. Aku dan Kliwon seumuran. Meski aku dan Kliwon adalah sarjana, sedangkan Kang Paijo dan Kang Paidi hanya lulusan SMA, kami hormat kepada mereka. Kalau mau cerita tentang bagaimana permulaan persahabatan kami, ah itu adalah cerita sangat panjang.
Masih ketakutan, aku kemudian mengambil tempat duduk mendekat ke Kang Paidi, Kliwon juga ngusel-ngusel ke sisi kami.
“Ngusel wae!” bisik ku ke Kliwon. Kliwon mendengus keras.
Kang Paidi memberi isyarat dengan telunjuknya yang ditempelkan ke bibir kepada aku dan Kliwon.
“Kang Paidi memukul-mukul alas duduk yang tidak bersalah, kamu itu berbuat aniaya… di tambah melempar kulit pisang kepada Kliwon, berarti Kang Paidi berbuat aniaya satu di tambah dua kuadrat.”
“Edaaaan! Aniaya wae ada kuadratnya, ha ha ha…” celetuk ku, tak bisa menahan tawa.
“Aniaya kuadrat untuk kamu juga, YANTO!!!” Kang Paijo mendelik sangar, marah padaku. Aku terkesiap dan mendadak tak bisa berkata-kata. “Kamu telah melmparkan kulit kacang yang tidak punya salah apa-apa ke kamu, terlebih lagi kamu melemparkannya ke saudara Kliwon dengan esmosi…”
“Emosi, Kang.”
“Sak karepku!” Bentak Kang Paijo kurang suka ceramahnya di potong oleh Kliwon. “Kamu berbuat aniaya kuadrat, Paham!”
Aku mengangguk-angguk, meskipun aku tidak paham betul yang dimaksud Kang Paijo.
“Kalian itu sudah berbuat aniaya dan berbuat kerusakan, tidak bisa disebut orang muslih lagi.”
“Interupsi Kang Paijo…” Kata Kang Paidi, “Mungkin yang dimaksud ‘kalian’ oleh Kang Paijo itu hanya Kliwon dan Yanto, saya tidak termasuk, wong tadi saya benerin Kandang Sapi nya Pak Lurah, seperti yang Kang Paijo saksikan sendiri.”
“Kamu juga termasuk!” Kang Paijo menuding Kang Paidi.
“Aku memperbaiki kok dibilang merusak…”
Tiba-tiba Kliwon bergumam : ”Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi.’ Mereka menjawab: “Sesungguhnya hanya kami orang-orang muslih.” Sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang benar-benar perusak, tapi mereka tidak menyadari.”
“Apa lagi itu Kliwon?” Tanya Kang Paijo lunak.
“Kutipan surat Al-Baqoroh Ayat sewelas rolas.” Jawab Kliwon.
“Bentar! Bentar dulu, ojo main dolanan ayat sik. Sini sekarang kita diskusi aja. Kita nyatai saja dan lupakan ketegangan di antara kita, yang sudah berlalu biarlah berlalu.” Kata kang Paijo tiba-tiba lunak.
Aku ragu-ragu, tetapi melihat Kliwon dan Kang Paidi duduk bersila dengan nyaman di dekat Kang Paijo, aku pun meyakinkan diri untuk ikut berdiskusi.
“Begini loh… “ Kang Paijo mulai bercerita. Pagi itu Kang Paijo pergi madrasah tempat anaknya bersekolah, bermaksud mau membayarkan SPP bulanan yang sudah nunggak selama satu semester. Pagi itu di madrash sedang ada upacara rutin hari Senin, tanpa sengaja, dari luar sekolah, Kang Paijo mendengar amanat Pak Habib, pembina upacara hari itu. Kang Paijo tertegunb dengan isinya, bahwa seorang siswa tidak mudah akanmendapatkan ilmu kalau ia menganiaya. Menganiaya teman, menganiaya kepada apa saja yang tidak berbuat salah, mencoret-coret meja atau tembok misalnya.
“Nah Won…!” Kata kang Paidi kemudian.”Sekarang coba terangkan kepada kami, ayat tadi yang kamu sampaikan kepada kita, sepertinya pas banget tuh dengan topik yang saya dengar dari Pak Habib tadi.”
“Begini…” Kliwon mengambil tasnya dan mengambil buku catatanya lalu mengambil posisi kemudian menerangkan dengan gaya akademisinya.
“Sobyek ‘mereka’, menurut Profesor Quraish Sihab dalam tafsirnya adalah orang-orang munafik. Dalam ayat tersebut disebutkan bahwasannya orang-orang munafik ditegur oleh Allah, dikatakan kepada mereka melalui nabinya, janganlah membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab sesungguhnya ‘hanya’ kami orang-orang muslih.
Selanjutnya menurut yang dijabarkan Profesor Qurais Sihab, orang muslih, yakni orang-orang yang mengadakan perbaikan, lebih lanjut orang muslih adalah siapa yang menemukan sesuatu yang hilang atau berkurang nilainya tidak atau berkurang fungsinya dan manfaatnya sedemikian sehingga ia melakukan aktifitas perbaikan yakni menjadikan sesuatu itu menjadi lebih memiliki nilai, menjadi lebih bisa diambil manfaatnya tanpa merusak atau mengurangi manfaat dari sesuatu itu. Jelasnya tidak menjadikan sesuatu masalah menuju masalah lain.
Lebih lanjut profesor menerangkan bahwa seseorang di tuntut, paling tidak, menjadi saleh, yakni memelihara nilai-nilai sesuatu sehingga kondisinya tetap tidak berubah sebagaimana adanya, dengan demikian sesuatu itu tetap berfungsi dengan baik dan bermanfaat.”
“Itu menjadi semakin cocok dengan cerita Kang Paijo mengenai Pak Habib yang bilang tidak boleh berbuat aniaya.”
“Seseorang yang telah berbuat aniaya menurut pemahaman saya berarti tidak saleh lagi, sebab perbuatan aniaya telah menjadikan sesuatu kurang manfaatnya, atau telah menjadikan sesuatu nilainya atau bobotnya tidak seberat sebelumnya, telah berkurang manfaatnya. Perbuatan aniaya itu banyak sekali macamnya, seperti yang sudah di jelaskan Kang Paijo, yaitu misalnya mencederai sesuatu bahkan benda mati sekalipun yang tak punya salah, yang tak bersalah apa-apa sama si pembuat aniaya.”
Kami semua termenung.
“Menganiaya diri-sendiri, menurutku adalah hal sederhana yang sering kita terlewatkan untuk menyadarinya.” Kataku menyambung diskusi yang terlalu asik dan membuat jengah ini.
“Misal, tidak memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya artinya tidak menjadikan diri kita menjadi saleh, karena tidak bisa membuat waktu yang kita miliki menjadi lebih bermanfaat, bahkan cenderung melakukan hal-hal yang tak ada gunanya. Apalagi di zaman teknologi yang serba cepat ini, ironinya, malah banyak melalaikan kita untuk segera mengakhiri banyak hal yang tidak ada gunanya, semakin menjerumuskan kita kepada hal-hal yang lebih sedikit gunanya.. Internet, misalnya, yang telah berkembang menjadi semakin ngebut malah membuat kita asik di dalamnya. Tau-tau satu jam dua jam sudah terbuang sia-sia untuk perang verbal, perang kata-kata untuk nyinyir dan segala macem keasikan di sana. Dengan semakin mudahnya komunikasi, semakin mudah pula memicu kontroversi dan konflik semudah memencet jempol pada tombol send. Melalaikan dan mebuai diri kita di dalamnya. Kita terpaku dan terjebak dalam keasikannya. Ah benar-benar aniaya.
Berbeda jika komunikasi dengan alat teknologi yang canggih itu digunakan untuk hal yang penting. Berbagi ilmu, koordinasi antar lembaga, kolega, sesama litas kerja, atasan bawahan dimana lebih menekankan pada efisiensi dan anggaran, jual beli online yang telah cukup sarat dan rukunya dan lain lain. Yang sifatnya dalah tidak membuang-buang waktu sedemikian sehingga membuat kita malas beranjak karena terbuai kenyamanan di sana.
“Alhamdulillah…..” Seru Kang Paijo dan Kang Paidi serempak dan itu membuat aku dan Kliwon heran dan bertanya-tanya.
“Aku ora kenal internet…!” Seru Kang Paidi
“Aku yo ora nduwe semartphone.”
“Wooooooooooo generasi zaman old!!!” Kata Kliwon tepat ketika Adzan Maghrib terdengar. Kang paijo mengajak kami bubar meninggalkan brak lalu mengingatkan kami untuk segera pergi ke masjid.
Orang-Orang Muslih dan Para Perusak
Oleh Andy Riyan
Maret, 7th 2018
Ketengan:
*Brak : Pos temapt berkumpul, biasanya terdapat di pertigaan-pertigaan atau perempatan-perempatan di sebuah desa. Menjadi pos tempat orang-orang melakukan kegiatan ronda.
Daftar Pustaka : Tafsir Al Misbah, Quraish Sihab, Lentera Hati
Advertisements
Report this ad
Report this ad

Dari Sebuah Kedai Kopi

Dari Sebuah Kedai Kopi
Oleh : Andy Riyan

Desember 2016
Aku datang ke kota ini untuk menemui seorang teman. Kota yang sudah hampir dua tahun ku(lupa)tinggalkan. Kini dihadapanku secangkir kopi terhidanglan dengan sepiring pisang goreng. Bila kedua aroma itu bersatu dalam keadaan kudua-duanya masih panas dan dalam keadaan ketika uap-nya masih mengepul-ngepul menggoda, maka tak ada hidangan yang lebih lezat atau lebih menarik perhatianku, yah setidaknya untuk saat ini. Karena kenyataannya satu jam setelahnya aku dibuat terkagum-kagum dengan seseorang yang bercerita di hadapanku.
Desember 2010
Sore itu, angin dingin berhembus dari celah-celah pepohonan yang banyak tumbuh menjulang di halaman kampus. Deras sekali sapuannya hingga membuat daun-daun pun kemudian jatuh berguguran dan tersapu ke segala arah, menari mengikuti irama ranting-ranting yang mendesah bagai sedang mempersembahkan sebuah background dalam scene musim gugur seperti di banyak film-film roman cinta, dimana tokoh utamanya tidak jarang menampilkan wajah-wajah seperti sedang dirudung nestapa. Dalam pada itu di bawah mentari—yang seharusnya masih—senja, di balik bayang-bayang pepohonan yang tak begitu jelas yang sebentar terlihat lalu detik berikutnya kabur lagi, kurebahkan diriku di atas rerumputan, tangan kuangkat tinggi-tinggi; ingin sekali kuraih puncak-puncak pepohonan itu dan berdiri di tasnya dan memandang luas kesekelilingnya. Di atas tanah ku hanya bisa membuka kedua tanganku, rasanya ingin kutangkapi semua daun-daun yang jatuh laksana hujan.
“Apa yang aku pikirkan sekarang?” Kataku pada diriku sendiri. “Hanya daun-daun yang berguguran di bawah temaramnya mentari senja, mengapa begitu indah?” Aku kemudian bangkit dan mengeluarkan dari dalam tas, sebuah buku ukuran sedang bersampul hitam berbahan kulit imitasi–buku yang kemana-mana selalu ku bawa–lalu menuliskan apa yang baru saja dikatakan itu.
“Apa yang harus kulakukan? Kemana aku harus berjalan menemukan jati diriku?” Sambil berpikir mengapa rata-rata anak kuliahan sering dihantui oleh pertanyaan seperti itu, kembali kujatuhkan lagi tubuh kurus ini ke atas rumput-rumput yang mulai menguning dan terlihat teramat lesu.
Dinginnya udara yang tengah berhembus bercampur dengan banyaknya dedaunan yang menyapa itu berhasil membuat sebuah perpaduan bau-bauan yang harum, dan rasanya seperti sesuatu yang segar atau dingin bila digigit. Dan dedaunannya yang singgah dan menempel di kulit terasa seperti tetesan embun pertama yang jatuh di pagi hari. Perpaduan itu cukup memberi semangat bagi siapa saja untuk bangkit dari keterpurukan di dunia yang telah mati, dunia yang gelap karena mendung yang menggantung dan kabut yang tak berujung, setelah hanya abu-abu yang terlihat di seluruh kota. Berbulan-bulan sudah kota itu tak berwarna selain hanya kelam seperti kisah masa lalu yang putih dan hitam penuh bayang-bayang kesedihan. Berbulan-bulan sudah kota itu lumpuh akibat erupsi gunung berapi yang berkali-kali meletus dan menyemburkan awan Wedhus Gembel dan memuntahkan abu yang tiada henti menghalangi masuknya sinar mentari. Sedemikian parah bencana itu hingga membuat aktivitas di seluruh kota terganggu. Debu-debu di jalanan setebal 5 senti menjadi becek oleh hujan, pasar-pasar sudah lama tutup total, bencana kelaparan mulai menjadi-jadi, wabah penyakit berdatangan, segala kebahagiaan terhisap dalam kehampaan dan tidak sedikit korban telah dilaporkan meninggal. Pendek kata kota itu menjadi seperti bumi Mordor, dengan Ereth Gorgoroth-nya yang menghampar tak berbatas dan tak bertepi. Hanya tarian dedaunan itulah yang hidup, tarian dedaunan itu seperti dua Hobbit kecil merangkak di negeri Mordor, sebuah harapan untuk bangkit dari kegelapan.
Namun, meski kegelapan telah menghampar sejauh mata memandang hingga hanya kabur dan bayang-bayang yang terlihat dan menjadi tak terlihat sama sekali semua gambar-gambar di baliknya. Meski karena kota itu menjadi semengerikan Silent Hill, mengisap seluruh semangat yang dulu pernah membara, menebarkan rasa putus asa yang sangat dalam, dan selalu mengingatkan pada bumi yang seluruhnya adalah surga yang kosong dan membuat penduduknya seperti Zombie. Tak menghalangi bagi seorang laki-laki untuk lahir dan menjadi seorang pemimpi. Yang kilat matanya selalu menyemburatkan cahaya lilin yang kemudian berkobar dan siap membukakan diri dari tirai-tirai gelap hatinya.
Angin, nama laki-laki itu, seorang yang berkharisma. Aku berkenalan dengannya tepat tahun lalu di sebuah kedai kopi.
*Bersambung

0 Response to "cara gurih gurij sorr"

Posting Komentar